Langsung ke konten utama

Sejak Saat itu.


Berawal dari pemilihan Ketua dan Wakil Ketua kelas kala itu, aku semakin yakin bahwa dialah yang ditetapkan olehNya untukku. Iya sebelum ini, tepatnya sembilan bulan sebelum pemilihan tersebut, ada yang memberitahuku tentangnya, mahasiswa pindahan dari kelas pagi. Pada saat itu ku berfikir untuk apa temanku memberitahukan tentang si mahasiswa ini kepadaku. Namun karena ku kurang peka jadi aku iyakan saja. Waktu berlalu hingga dua bulan perkenalan kami di dalam kelas, selama itu tidak ada interaksi antara kami, karena dia duduk dibarisan belakang dan aku duduk dibarisan depan. Kami hanya mengenal lewat absensi yang disebutkan oleh dosen.

 Untuk pertama kalinya kami bertemu dan tukar cerita, ternyata dia lebih dari yang ku pikirkan, dia cerdas, sok asik, sedikit ramah dan cukup humoris. Pada hari itu ada seminar di dekat kampus kami, dia duduk di sebelahku, entah apa yang membuat kami duduk bersebelahan kala itu sampai kami tidak fokus mendengarkan seminar yang ada di depan karena ke-asik-an bercerita. Kota Depok menjadi bahan ke-akrab-an kami hehe. Dia bercerita pernah tinggal di Depok cukup lama, TK di Depok, SD sampai kelas 4 di Depok dan tinggal di Depok juga. Karena di kelas aku satu-satunya putri Depok wkwkwk jadilah kami “nyambung” berbagi cerita. Pembahasan kami beragam, mulai dari jalanan di rawag*ni, stasiun Depok, nasi goreng, SBMPTN dan sambal setan (makanan yang pedes itu) doi bilang saudaranya pernah jualan di dekat SD dia. Saat itu yang ku rasakan hanya senang saja, enggak ngerti kenapa bisa senang. Hanya saja aku tak semudah itu akrab dengan orang baru terlebih dia seorang laki-laki.

Singkat cerita kami sudah masuk di semester tiga tahun 2016 lalu. Ya kami sekelas lagi karena emang kelas malam hanya satu kelas haha (garing). Yang bikin nyes saat itu, urutan absensi kami atas bawah, karena sebelumnya jarak absensi kami cukup jauh,  nama dia lalu namaku. Melihat itu saja hatiku sudah deg-degan dan mikir “kok bisa?” jangan ditanya senang atau tidak, kamu pasti tau jawabannya apa hehe, labay si, tapi aku memang seperti itu, bahagia walau itu hal yang sederhana.
Hari rabu jam kedua kami diisi oleh mata kuliah statistik, kebetulan dosen yang mengisi materi itu adalah saudaraku. Aku mengetahuinya saat kelasku mendapatkan jadwal mata kuliah. Aku berusaha untuk menjadi mahasiswanya beliau, bukan sebagai “adik” beliau dan saat itu berhasil, yeay. 
Fauzi datang ketika dosen sudah duduk di bangkunya. Sedangkan aku seperti biasa, aku duduk di bangku depan hehe. Saat itu ibu dosen bertanya “disini siapa ketua kelasnya?” lalu barisan belakang kompak meneriaki nama Fauzi dengan sebutan “kiting bu…” ya, kiting adalah nama panggilan dari teman-temannya untuk suamiku ini hehe. Dan bu dosen bilang “kok kamu lagi fauzi?” lalu bu dosen bertanya kembali “wakilnya siapa?” dan sekarang giliran barisan depan kompak meneriaki nama.. “Anisa bu..” itu namaku. Dengan spontan, kala itu aku bukan kesal terhadap teman-teman malah melirik Fauzi dan bertanya “kok gue?” haha aneh emang deh.

ini adalah foto kami untuk pertama kalinya hehe

Semester tiga terus berlalu, mulai berasa capeknya kerja dari pagi sampai sore terus berlanjut kuliah dari setengah 7 sampai setengah 10 malam, sampai rumah biasanya jarum jam sudah di jam 11 atau lebih. Namun aku merasa beginilah hidup, harus tetap dijalani. Secapek apapun kamu, tapi kamu tetap butuh penghasilan dan jangan lupakan ilmu sebab ilmu adalah kebutuhan dan kerja adalah pilihan.



 Masuk di bulan Oktober, aku dan teman-teman kampusku berlibur ke pulau, ralatttt hehe kita jalan-jalan ke pulau karena saat itu dosenku memiliki open trip 3 pulau untuk merayakan hari jadi timnya dia (mohon maap ku lupa apa namanya hihi) seperti biasa ketika selesai jalan-jalan dan mendapatkan angle foto yang bagus pasti akan terbit di istagram dong haha. Waktu itu sepertinya teman kampusku upload dan nge-tag ke ig ku. Mungkin, fauzi lihat dan dia langsung follow ig aku (setelah ku konfirmasi ternyata benar, dia lihat ig temanku dan langsung follow ig ku haha) sebenarnya aku sudah tau ignya fauzi jauh sebelum itu, tapi aku belum mau follow dia, bukan kerena jual mahal tapi aku bukan tipe yang agresif, aku tau aku sudah mulai mengagumi dia setelah percakapan kami saat seminar lalu, tapi aku sedang menikmati masa menjadi “Fatimah” kala itu dengan mengagumi tanpa diketahui. Entahlah, sudah menjadi pribadiku sejak dulu, mengagumi tanpa diketahui oleh dia yang ku kagumi dan timbullah sedikit penyesalan setelahnya, namun aku selalu menikmatinya hehe.

Kamu tentu tau dong apa perasaanku setelah di follow olehnya, hahaha cukup aku malu jika mengingatnya. Kemudian aku juga langsung follow back dia dan selebihnya mengalir seperti biasa. Saat itu aku mengatahui bahwa dia sedang bersama seseorang, namun entah kenapa tidak ada masalah untukku. Kita tetap berteman dengan baik dan aku tidak cemburu, sama sekali bahkan saat itu aku berdo’a untuknya “semoga kebahagiaan selalu bersamamu dengan orang yang kamu pilih, aku bahagia dengan caraku yang mengagumimu saat ini” bagiku tak masalah dia punya banyak sekalipun karena itu hanya pacar, dan pacar bisa putus. Tidak, aku tidak mendo’akan ia putus, sama sekali tidak. Aku mendo’akan yang terbaik untuknya, karena kagumku sudah berubah menjadi sayang sejak saat itu hehe.

Kamu pasti tau dong di akhir 2016 lalu media kita di penuhi oleh berita tentang Allepo dan Suriah yang saat itu sedang diserang oleh rezim Nushairiyah. Banyak nyawa tak berdosa hilang begitu saja di bom oleh mereka, kami umat islam tentu tidak terima sudara kami terlebih  mereka itu se-iman dengan kami di perlakukan  seperti itu. Aku marah saat itu sehingga menuliskan caption cukup panjang di instagram dan dia ngelike juga komen pakai emot hati. yaaAllah gue kan orangnya baperan ya ih dia malah kasih emot itu cobaaaaL tapi alhamdulillahnya aku bisa mengkondisikan jadilah kembali seperti biasa.

“ada banyak cara Allah untuk mempertemukan.
Terlihat rumit padahal sederhana,
Terlihat jauh padahal dekat
Terlihat orang lain, padahal kamu.
Iya kamu.”
Fauzi, 2017.

2016 pun sudah berlalu, di semester 4 ini  ada banyak planning dari kelas kami tentu saja drama akan selalu muncul karena kepala di kelas kami cukup banyak, dan setiap dramanya selalu seru, parah si aku sangat merindukan kelas besarta penduduknya.

Sampai jumpa di kisah 2017 :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Darinya, Sumber Manis.

Sepucuk Surat Online untuk Waliyyul Maukah kau berbagi denganku perihal caramu memandang dunia? Di matamu, banyak hal terbesit namun tak jua ku terka dengan baik. Di dalam tatap yang kau adopsi, ada jutaan tanya yang mengambang di hamparan gelap. Namun, bolehkah sejenak saja, aku singgah digaris senyum yang semesta hadirkan lewat sosokmu? Sebentar saja, bolehkah aku mendengar nada-nada terbaik yang mengisi relung dan redup terangmu? Malam ini saja, aku ingin singgah di pelosok rasamu tentang bagaimana langkahmu memaknai takdir yang hadir tanpa aba-aba. Bolehkah sedikit saja aku intip celah yang kau tutup dengan begitu rapat, ada apa di dalam sana? Berdiri di Pijakan Angkasa --Jakarta, Penghujung Agustus-- Hai bulan, Sinarmu terang malam ini Apa karna kau sedang bahagia? Hai bintang, Kau menghilang malam ini Apa karena kau sedang berduka? Duduk sini Akan ku ceritakan padamu Yang terjadi pada angkasa beberapa pekan terakhir Tentang gemerlap langit yang mengi...

Tak Berwujud

Hujan di Bandung seakan membuatku betah disini.. Kelembapan udaranya membuatku sejuk Entah sudah berapa detik yang aku keluarkan hanya untuk melamun Aku benci menunggu Khawatir itu menyakitkan Berharap pada sesuatu yang tidak pasti pun seperti membiarkan diri di tabrak ombak Ini apa? Diri yang tak berwujud saja bisa menggoreskan luka Meski hanya dengan menunggu khawatir dan berharap Lalu apa arti semua ini? Bisakah kau menterjemahkan untukku?                                                                                             -Waliyyul 2016-

Pertama

Susah untuk mengerti rencana yang sudah di atur oleh Allah. terkadang kita harus emosi dan tidak pernah berpikir panjang. Namun setelah disadari malah selalu kata 'penyesalan' yang keluar dari mulut ini. mungkin aku adalah salah satu dari kebanyakan orang, yang jarang bersyukur ketika Allah beri nikmat, dan selalu mengeluh ketika diberi kesusahan. dan menyesal setelah menyadarinya. padahal banyak teman-teman lain yang sedang membutuhkan apa yang sedang kita buang dulu kita punya ya contohnya pacar gitu hahaha "loh kok jadi ke pacar?!" mungkin banyak teman yang butuh bekas pacar kita hehe "BECANDA INI OKE? JANGAN BAPER PLEASE.... OKE BAGUS" iya, coba deh lihat di sekeliling kita, masih banyak banget orang yang 'lebih membutuhkan' di banding kita. mungkin yang terlintas dipikiran kita adalah orang miskin yang tidak punya rumah, atau yang pakaiannya kotor atau sebagainya. itu yang terlihat di luarnya. belum tentu yang di dalam terlihat menyedihkan...