Sepucuk Surat Online untuk Waliyyul
Maukah kau berbagi denganku perihal caramu memandang dunia?
Di matamu,
banyak hal terbesit namun tak jua ku terka dengan baik.
Di dalam tatap yang kau adopsi,
ada jutaan tanya yang mengambang di hamparan gelap.
Namun,
bolehkah sejenak saja, aku singgah digaris senyum yang semesta hadirkan lewat sosokmu?
Sebentar saja, bolehkah aku mendengar nada-nada terbaik yang mengisi relung dan redup terangmu?
Malam ini saja, aku ingin singgah di pelosok rasamu tentang bagaimana langkahmu memaknai takdir yang hadir tanpa aba-aba.
Bolehkah sedikit saja aku intip celah yang kau tutup dengan begitu rapat, ada apa di dalam sana?
Berdiri di Pijakan Angkasa
--Jakarta, Penghujung Agustus--
Hai bulan,
Sinarmu terang malam ini
Apa karna kau sedang bahagia?
Hai bintang,
Kau menghilang malam ini
Apa karena kau sedang berduka?
Duduk sini
Akan ku ceritakan padamu
Yang terjadi pada angkasa beberapa pekan terakhir
Tentang gemerlap langit yang mengintip diam-diam,
Memergoki aku yang sedang dihujam meteor,
Menangkap basah mataku yang terbius udara dini hari
Angkasa,
Aku titip salam untuk semua yang ada di Galaksi.
Tapi cukup simpan untukku satu
Beri aku yang sinar nya paling redup,
Beri aku yang tidak di inginkan banyak orang,
Beri aku satu yang tak sempurna
Catat baik-baik,
Bersinar setelah melewati pahit dan getir bersama, jauh lebih manis.
Izinkan aku membawamu menuju sinar yang abadi,
Letaknya memang bukan di angkasa.
Tetapi di sini, di bait tentang kita.
Rindu adalah ketidakkuasaan manusia untuk berjumpa,
selain panjatan do'a yang terus ia pinta
Inilah rinduku bersama rintik hujan, yang terus berjatuhan.
Rinduku bersama kelopak malam berhias bintang tanpa batas hitungan.
Rinduku berhias senja saat ia berpamitan.
Pun rinduku bersama angin pegunungan yang membawa kabut tipis senyumanmu.
Dan rinduku juga rindumu, yang menjadikan kita laksana bahasa alam.
Apa kabarmu?
Apakah setiap tanda tanya dariku adalah jawaban sulit bagimu?
Atau kau sengaja diam agar aku terus bertanya?
Atau kau sengaja menghindar agar kau terus kuperhatikan?
Atau kau sengaja bermain rahasia agar aku terus mencari jawabannya?
Asal kau tahu, rindu itu sulit!
Tanpa jawaban pasti darimu, menunggumu.
Jika memang kau juga berdo'a untukku mari kita buktikan.
Siapa yang lebih tersiksa saat merindu, dan terasa berat saat tak saling dekat.
Jika memang dalam bersimpuh air matamu menggenang.
Mari kita buktikan, rindu siapa yang mampu bertahan.
Dan bukan pergi tanpa mengerti cara untuk berpamitan.
Mungkin kucukupkan malam ini tentangmu.
Tentang ketidakkuasaan kita untuk bertemu.
Karena inilah cara romantis Allah mengajarkan rindu.
Kepada hamba-Nya yang meminta, agar kelak mereka dapat bersatu.
[ Depok, di pagi hari yang memang dingin, 7 November 2017 ]
Dariku:
Seorang perindu yang perlu aamiinan darimu. Selalu.
Maukah kau berbagi denganku perihal caramu memandang dunia?
Di matamu,
banyak hal terbesit namun tak jua ku terka dengan baik.
Di dalam tatap yang kau adopsi,
ada jutaan tanya yang mengambang di hamparan gelap.
Namun,
bolehkah sejenak saja, aku singgah digaris senyum yang semesta hadirkan lewat sosokmu?
Sebentar saja, bolehkah aku mendengar nada-nada terbaik yang mengisi relung dan redup terangmu?
Malam ini saja, aku ingin singgah di pelosok rasamu tentang bagaimana langkahmu memaknai takdir yang hadir tanpa aba-aba.
Bolehkah sedikit saja aku intip celah yang kau tutup dengan begitu rapat, ada apa di dalam sana?
Berdiri di Pijakan Angkasa
--Jakarta, Penghujung Agustus--
Hai bulan,
Sinarmu terang malam ini
Apa karna kau sedang bahagia?
Hai bintang,
Kau menghilang malam ini
Apa karena kau sedang berduka?
Duduk sini
Akan ku ceritakan padamu
Yang terjadi pada angkasa beberapa pekan terakhir
Tentang gemerlap langit yang mengintip diam-diam,
Memergoki aku yang sedang dihujam meteor,
Menangkap basah mataku yang terbius udara dini hari
Angkasa,
Aku titip salam untuk semua yang ada di Galaksi.
Tapi cukup simpan untukku satu
Beri aku yang sinar nya paling redup,
Beri aku yang tidak di inginkan banyak orang,
Beri aku satu yang tak sempurna
Catat baik-baik,
Bersinar setelah melewati pahit dan getir bersama, jauh lebih manis.
Izinkan aku membawamu menuju sinar yang abadi,
Letaknya memang bukan di angkasa.
Tetapi di sini, di bait tentang kita.
Rindu adalah ketidakkuasaan manusia untuk berjumpa,
selain panjatan do'a yang terus ia pinta
Inilah rinduku bersama rintik hujan, yang terus berjatuhan.
Rinduku bersama kelopak malam berhias bintang tanpa batas hitungan.
Rinduku berhias senja saat ia berpamitan.
Pun rinduku bersama angin pegunungan yang membawa kabut tipis senyumanmu.
Dan rinduku juga rindumu, yang menjadikan kita laksana bahasa alam.
Apa kabarmu?
Apakah setiap tanda tanya dariku adalah jawaban sulit bagimu?
Atau kau sengaja diam agar aku terus bertanya?
Atau kau sengaja menghindar agar kau terus kuperhatikan?
Atau kau sengaja bermain rahasia agar aku terus mencari jawabannya?
Asal kau tahu, rindu itu sulit!
Tanpa jawaban pasti darimu, menunggumu.
Jika memang kau juga berdo'a untukku mari kita buktikan.
Siapa yang lebih tersiksa saat merindu, dan terasa berat saat tak saling dekat.
Jika memang dalam bersimpuh air matamu menggenang.
Mari kita buktikan, rindu siapa yang mampu bertahan.
Dan bukan pergi tanpa mengerti cara untuk berpamitan.
Mungkin kucukupkan malam ini tentangmu.
Tentang ketidakkuasaan kita untuk bertemu.
Karena inilah cara romantis Allah mengajarkan rindu.
Kepada hamba-Nya yang meminta, agar kelak mereka dapat bersatu.
[ Depok, di pagi hari yang memang dingin, 7 November 2017 ]
Dariku:
Seorang perindu yang perlu aamiinan darimu. Selalu.
Komentar
Posting Komentar