Langsung ke konten utama

Menuju Baik itu Baik.

Dalam proses menuju baik, Allah tidak akan membiarkanmu berjalan dengan mulus. Ia akan memberikanmu kejutan-kejutan kecil yang jika kamu belum percaya benar akan kuasaNya pasti kamu tidak akan kuat. Aku menulis ini bukan berarti aku sudah baik, dan layak untuk dijadikan cermin, tentu tidak. aku hanya ingin menyampaikan pendapatku saja.

Proses, itulah yang aku tegaskan pada tulisan ini. Karena proses adalah perjuangan yang tidak bisa di nilai dengan harta dan materi. proses berjuang,  berjuang untuk menjadi baik dimata Ia, cukup Dia yang menjadi saksi, tak bisa ku mengubah manusia untuk melihat aku dengan baik bahkan lebih baik. Cukup Dia yang tau betap jatuh dan tertatihnya aku dalam proses menuju istiqomah, yang jika kamu tau prosesnya itu adalah kenikmatan yang tidak bisa digambarka dengan kata-kata, (lagi) bukan berarti aku sudah bisa istiqomah, hehe tentu belum, jauh dari kata “sudah istiqomah” karena sejatinya pun sama, aku juga sedang  berproses menuju baik.

Allah Maha Baik.
Bagaimana tidak baik, baru aku ucapkan dalam hati aku ingin melakukan ini dan itu agar aku bisa dilihat baik olehNya bukan olehnya tapi Ia sudah memberikan aku jalan yang nikmatnya sungguh indah. Aku seorang pendosa yang jauh dari kata “baik” tapi Allah Maha Baik masih menutupi tumpukkan dosaku dengan kebaikanku yang kecil, iya kecil, kecil sekali.

Dan Allah berfirman dalam kitab suci ummat islam pada surah Az-Zalzalah ayat 6 sampai 8, yang artinya:
“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Dzarrah disini sepengetahuanku adalah biji sayuran sawi.

Aku hidup di zaman yang sudah  sangat jauh dari Nabiku, Nabi Muhammad SAW. Sosok beliau yang belum pernah ku jumpai, yang selalu disanjung oleh seluruh ummat Islam, penutup dari para Nabi,  yang mulia, kekasih Allah, sosok laki-laki hebat dan banyak yang indah lainnya dari beliau. Aku tidak bisa berjumpa dengan dia di dunia ini. Jadi tolong, jangan “paksa” aku untuk berubah menjadi yang tidak dikenali oleh manusia. Memang yang ku bilang di atas cukup Allah saja yang perlu tau, tapi nyatanya kita hidup bersosial, hidup di dunia, hidup di negara yang mayoritas beragama Islam dan hidup diantara ummat beragama lainnya, ketika aku yang  insyaAllah  sedang  melaksanakan hablumminaAllah, aku pun ingin melaksanakan hablummninannas hubungan baik dengan sesama manusia.

Bukankah seorang muslim yang baik tidak dituntut untuk mengubah seorang muslim lainnya menjadi lebih baik?

Menurut pandanganku, muslim yang baik ialah yang mampu membimbing muslim yang belum baik, yang mampu menemani ketika ia jatuh, yang mampu membantu memberikan energi positif bahwa ia tidak sendiri, ada aku, ada kita, mari kita berjuang bersama-sama, yang mampu meluruskan ketika pemahaman dia tentang sesuatu itu keliru, yang mampu mengingatkan bahwa Allah itu yang Maha Baik, jadi tidak perlu cemas jika kita berbuat sesuatu hal yang kita anggap masih keliru karena sejatinya Allah akan memberikan jalan keluar pada hambaNya yang bersungguh-sungguh mengharap ridhoNya.

Semua berawal  dari niat, tidak ada yang tau niat setiap manusia itu, hanya si pembuat niat dan Allah yang Maha Tahu.  Berpindah dari suatu yang tidak baik menjadi baik itu tidak mudah, ada kenikmatan-kenikmatan yang harus kamu lalui, mungkin yang kau pikirkan adalah “kenapa Allah jahat kepada aku, bukankah Allah tau kalau aku sedang berproses menuju baik? Tapi kenapa Allah malah kasih aku ujian yang sebegininya?”

Sayang, Allah sedang menguji kita, inilah kenapa istiqomah dikatakan tidak mudah. Karena sejatinya berpindah menuju baik (hijrah) itu mudah, tapi yang tidak mudah adalah istiqomahnya. Itulah mengapa kamu sebagai muslim yang baik harus membantu kami yang sedang menuju baik untuk bisa istiqomah pada jalan yang kami anggap sudah baik, agar kami tidak tersesat, agar kami tidak berhenti ditengah jalan, agar kami tidak mmbenci agama kami yang kata orang yang tidak mengetahui agama kami bahwa Islam itu terlalu banyak aturan, agar kami tidak dijemput oleh kesesatan,dan  agar kami tidak lari.

Kamu harus membantu kami agar kami bisa kokoh pada pendirian kami bahwa islam itu indah, islam itu rahmatan lil alamiin (rahmat semesta alam), islam itu bukan banyak aturan, melainkan saking cintanya islam pada kita maka diatur sedemikian rupa agar kita tidak keliru dalam mengambil langkah.
Bukankah Allah sudah berfirman dalam kitab suci ummat islam “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” bahkan Allah mengulangnya kembali pada surah yang sama “ sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” –Qur’an Surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6.

Dan untuk teman yang sangat baik, Allah berikan kita pertolongan dengan cara bersabar dan sholat. Bahkan Ia pun berfirman dalam AL-Qur’an “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah Sabar dan Shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar” Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 153
Sabar itu tidak ada batasnya sayang, jika ada batasnya maka perang akan terjadi setiap hari, pembunuhan sudah seperti mematikan seokor binatang yang suka mengigit kulit kita, tidak ada perdamaian dan tidak ada  kehidupan. Jadi sertakan sabar dalam setiap langkahmu juga jadikanlah sholat sebagai caramu beristirahat agar bisa berkomunikasi baik dengan Allah,Tuhan kita. Kamu tau kan buah dari sabar itu apa? N I K M A T
yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata.


Selamat berproses:)


-Waliyyul-
24 November 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Darinya, Sumber Manis.

Sepucuk Surat Online untuk Waliyyul Maukah kau berbagi denganku perihal caramu memandang dunia? Di matamu, banyak hal terbesit namun tak jua ku terka dengan baik. Di dalam tatap yang kau adopsi, ada jutaan tanya yang mengambang di hamparan gelap. Namun, bolehkah sejenak saja, aku singgah digaris senyum yang semesta hadirkan lewat sosokmu? Sebentar saja, bolehkah aku mendengar nada-nada terbaik yang mengisi relung dan redup terangmu? Malam ini saja, aku ingin singgah di pelosok rasamu tentang bagaimana langkahmu memaknai takdir yang hadir tanpa aba-aba. Bolehkah sedikit saja aku intip celah yang kau tutup dengan begitu rapat, ada apa di dalam sana? Berdiri di Pijakan Angkasa --Jakarta, Penghujung Agustus-- Hai bulan, Sinarmu terang malam ini Apa karna kau sedang bahagia? Hai bintang, Kau menghilang malam ini Apa karena kau sedang berduka? Duduk sini Akan ku ceritakan padamu Yang terjadi pada angkasa beberapa pekan terakhir Tentang gemerlap langit yang mengi...

Tak Berwujud

Hujan di Bandung seakan membuatku betah disini.. Kelembapan udaranya membuatku sejuk Entah sudah berapa detik yang aku keluarkan hanya untuk melamun Aku benci menunggu Khawatir itu menyakitkan Berharap pada sesuatu yang tidak pasti pun seperti membiarkan diri di tabrak ombak Ini apa? Diri yang tak berwujud saja bisa menggoreskan luka Meski hanya dengan menunggu khawatir dan berharap Lalu apa arti semua ini? Bisakah kau menterjemahkan untukku?                                                                                             -Waliyyul 2016-

Pertama

Susah untuk mengerti rencana yang sudah di atur oleh Allah. terkadang kita harus emosi dan tidak pernah berpikir panjang. Namun setelah disadari malah selalu kata 'penyesalan' yang keluar dari mulut ini. mungkin aku adalah salah satu dari kebanyakan orang, yang jarang bersyukur ketika Allah beri nikmat, dan selalu mengeluh ketika diberi kesusahan. dan menyesal setelah menyadarinya. padahal banyak teman-teman lain yang sedang membutuhkan apa yang sedang kita buang dulu kita punya ya contohnya pacar gitu hahaha "loh kok jadi ke pacar?!" mungkin banyak teman yang butuh bekas pacar kita hehe "BECANDA INI OKE? JANGAN BAPER PLEASE.... OKE BAGUS" iya, coba deh lihat di sekeliling kita, masih banyak banget orang yang 'lebih membutuhkan' di banding kita. mungkin yang terlintas dipikiran kita adalah orang miskin yang tidak punya rumah, atau yang pakaiannya kotor atau sebagainya. itu yang terlihat di luarnya. belum tentu yang di dalam terlihat menyedihkan...